Panduan Ibadah Orang Sakit

Murtiningsih, SKp, M.Kep, Sp.Mat

Perawat Peduli Ibadah

Dosen STIKes Jayakarta

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah Subhana wata’ala, penulis dapat menyusun buku saku “PANDUAN IBADAH ORANG SAKIT”. Sholawat dan salam semoga melimpah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, para sahabat, serta seluruh pengikutnya hingga di akhir zaman. Aamiiin.

Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga buku Panduan Ibadah Orang Sakit edisi pertama ini tersusun. Tujuan penyusunan  sebagai panduan bagi orang sakit melakukan ibadah sholat ketika dirawat di Rumah Sakit atau siapapun  termasuk yang sehat agar dapat membantu pasien melakukan ibadah sholat ketika sakit.

Firman Allah QS AlMaidah ayat 6 artinya Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.

Sholat merupakan kewajiban setiap umat Muslim yang baligh hingga akhir hayat. Pasien yang dirawat di Rumah Sakit ada Rukhshah (kemudahan melakukan ibadah karena keuzuran). Jika pasien tidak mampu berdiri, maka sholat dapat dilakukan dengan duduk, berbaring ataupun dengan isyarat. Sholat merupakan hal yang penting bagi umat Muslim.

Dalam buku Modul edisi pertama ini berisi tentang Keperawatan spiritual, konsep Sehat Sakit dalam Islam, Rukshah, thaharah, Panduan shalat orang sakit, serta latihan kasus untuk praktek ibadah orang sakit. Penulis menyadari dalam penyusunan ini masih ada kekurangan dan ketidaksempurnaan. Penulis mohon maaf atas segala kekurangan, mohon saran dan masukan untuk perbaikan pada penyusunan selanjutnya. Semoga Allah Subhana Wata’ala senantiasa memberikan taufik dan hidayah dan Semoga buku ini dapat bermanfaat.

Jakarta, 20 Desember 2019

Penulis,

Murtiningsih

Contents

BAB I 3

KEPERAWATAN SPIRITUAL. 3

BAB II. 5

KONSEP SEHAT DAN SAKIT DALAM ISLAM… 5

1.      Konsep sehat dan sakit menurut Islam.. 5

2.      Hikmah sakit. 5

3.      Bimbingan orang sakit. 5

BAB III. 6

RUKHSHAH.. 6

1.      Pengertian ‘Azimah dan Rukhshah. 6

2.      Dalil tentang Rukhshah. 6

3.      Contoh Rukhshah . 7

BAB IV.. 8

THAHARAH/BERSUCI. 8

1.      Pengertian Bersuci 8

2.      Wudhu. 8

3.      Pasien yang terdapat balutan pada anggota wudhu. 10

4.      Peralatan wudhu ketika sakit. 10

5.      Tata cara bersuci pasien yang senantiasa berhadats. 11

6.      Cara berwudhu Jika ada balutan. 12

7.      Wanita Istihadhah. 14

8.      Wudhu wanita yang mengalami istihadoh. 15

9.      Tayamum.. 15

10.        Peralatan tayamum ketika sakit:. 15

11.        Tata Cara Tayamum orang sakit:. 16

BAB V.. 17

PANDUAN IBADAH SHOLAT ORANG SAKIT.. 17

1.      Pegertian Sholat. 17

2.      Dalil tentang Sholat. 17

3.      Tata Cara Sholat. 18

4.      Panduan ibadah  sholat orang sakit. 18

BAB VI. 27

LATIHAN KASUS. 27

Daftar Pustaka………………………………………………………………………………………………………………………………………

Biografi Penulis ……………………………………………………………………………………………………………………………………

BAB I

KEPERAWATAN SPIRITUAL

Kata spiritual berasal dari bahasa Latin yaitu spiritus yang berarti hembusan atau bernafas, kata ini memberikan makna segala sesuatu yang penting bagi hidup manusia (Reed,1992 dalam Kozier, 2008).Spiritual Care adalah praktek dan prosedur yang dilakukan oleh perawat terhadap pasien untuk memenuhi kebutuhan spiritual pasien

Perawat dalam memberikan pelayanan asuhan keperawatan kepada klien secara holistik, tidak hanya fisik saja tetapi juga memberikan asuhan terhadap spiritual klien.. Pemenuhan kebutuhan spiritual klien akan menurunkan atau meningkatkan penyembuhan fisik dan mental pasien. Perawat perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan khusus untuk memenuhi kebutuhan spiritual klien ketika dirawat di Rumah Sakit. (Kozier, at all, 2008).

Seorang Perawat Muslim akan membantu pasien Muslim dalam memenuhi kebutuhan spiritual Muslim. Dalam memberikan asuhan keperawatan perawat berdasarkan paradigm keperawatan sebagai konsep sental disiplin ilmu keperawatan. Paradigma keperawatan tersebut meliputi Manusia, kesehatan, lingkungan dan keperawatan.

Paradigma Keperawatan Islam adalah cara pandang, keyakinan, nilai-nilai dan konsep-konsep dalam menyelenggarakan profesi keperawatan yang melaksanakan sepenuhnya prinsip dan ajaran Islam. (Achir Yani, 2015)

Keperawatan Islami adalah pelayanan keperawatan sebagai bentuk ibadah berdasarkan AlQur’an dan Hadis untuk mencari Ridho Allah SWT, dengan karakteristik professional ramah, amanah, istiqomah, sabra dan Ikhlas. (Sudalhar, 2011). Sebagai seorang perawat Muslim diharapkan dapat membantu pasien memenuhi kebutuhan spiritual. Salah satu pemenuhan kebutuhan spiritual adalah pasien dapat melakukan ibadah sholat lima waktu yang merupakan kewajiban seorang Muslim.

Dalam AlQur’an Surat Azzariyat (51) ayat 56 yang artinya “tidak Aku Cptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah”. Seorang perawat Muslim ketika membantu pasien melakukan ibadahnya itu merupakan ibadah juga baginya jika dilakukan dengan ikhlas dan sesuai dengan syariat.

Dalam Al Qur’an Surat AnNisa (4) ayat 103 “Sesungguhnya sholat adalah satu ketetapan yang diwajibkan kepada orang-orang yang beriman yang telah ditentukan waktunya”. Sholat merupakan rukun Islam yang pertama kali diwajibkan, dan merupakan ibadah pertama yang akan dihisab ketika hari kiamat. Setiap Muslim wajib melaksanakan sholat lima waktu dalam sehari yaitu Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib dan Isya.  Kewajiban sholat tidak boleh ditinggalkan jika tidak mampu berdiri boleh duduk, berbaring atau dengan isyarat mata dan hati. Bagi pasien yang dirawat di Rumah sakit mempunyai hambatan dalam melaksanakan ibadah sholat tersebut, maka tugas perawat Muslim adalah membantu pasien untuk melakukan ibadah. (Jais Kamus, 2013)

Seorang perawat Muslim akan memberikan asuhan keperawatan Muslim dalam memenuhi kebutuhan spiritual Muslim. Perawat dapat membantu pasien dalam melakukan ibadah ketika di Rumah Sakit. Pasien yang dirawat di Rumah Sakit ada rukhshah dalam melakukan ibadah di Rumah Sakit. Definisi Rukhsah dari segi Bahasa adalah mempermudahkan. Definisi Rukhsah dari segi istilah adalah suatu hokum yang berlaku dalam keadaan yang bertentangan dengan dalil asli karena terdapat keuzuran. (Ahmad Marzuk, 2011).

BAB II

HIKMAH SAKIT DALAM ISLAM

Hikmah Sakit

Berdasarkan Hadits Shahih Bukhari (Imam Az-Zabidi, 2017):

Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri dan Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Tidak ada musibah yang menimpa seorang Muslim, penyakit, kesedihan, kepiluan dan luka, yang diterima dengan penuh kesabaran, melainkan menjadi kifarat atas dosa dan kesalahannya, walaupun hanya tertusuk sepotong duri sekalipun.”

Diriwayatkan dari Abdullah, dia berkata, “Aku menemui Rasulullah ketika beliau ada dalam keadaan sakit. Saat itu beliau benar-benar menderita karena sakit yang demikian parahnya. Aku berkata, “Engkau menderita sakit parah, sehingga engkau akan mendapatkan dua pahala bukan?” Rasulullah bersabda, Benar. Tidak seorang Muslimpun yang ditimpa penyakit, melainkan akan menggugurkan dosa-dosanya, seperti gugurnya dedaunan dari ranting-ranting pohon.”

  • Bimbingan Orang Sakit

Berdasarkan Hadits Shahih Bukhari (Imam Az-Zabidi, 2017):

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda,”Tidaklah Allah menurunkan penyakit melainkan juga menurunkan obatnya.” (HR Bukhari No. 5678)

Diriwayatkan dari Abu Sa’id bahwa seorang laki-laki menemui Rasulullah seraya berkata, “saudaraku mengalami sakit perut.”Rasulullah bersabda, “Berilah madu.” Kedua kalinya orang itu dating, beliau berkata kepadanya, “Berilah dia madu. “ Dan orang itu datang kembali untuk yang ketiga kalinya, dan beliau bersabda, “ Berilah dia madu.” Ternyata dia masih datang kembali, maka beliau bersabda, “Apa yang Allah firmankan adalah benar, dan perut saudaramulah yang berdusta. Berilah dia madu.“ Maka orang itu memberinya madu dan akhirnya dia pun sembuh. (HR Bukhari No. 5684)

Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda, “ Tidak selayaknya seseorang yang ditimpa musibah dari kalian mengharapkan kematian atau abahaya menimpanya. Sekalipun terpaksa,  hendaklah dia berkata, “Ya Allah, hidupkanlah aku jika kehidupan adalah yang terbaik bagiku, dan matikanlah aku jika kematian lebih baik bagiku.

Doa Ketika menjenguk orang sakit

 اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِيْ لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَماً.

Ya Allah, Rabb pemelihara manusia, hilangkanlah penyakit ini dan sembuhkanlah, Engkau-lah Yang Maha menyembuhkan, tidak ada kesembuhan melainkan hanya kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan sedikitpun penyakit.” (HR. Al-Bukhari)

BAB III

RUKHSHAH

  1. Pengertian ‘Azimah dan Rukhshah

‘Azimah secara literal adalah hati yang teguh untuk melakukan atau tekad yang kuat.

‘Azimah secara istilah adalah individu mukalaf yang melaksanakan ibadah menurut hukum asal yang diperintahkan tanpa ada keuzuran. (Harmy Mohd Yusuf, 2012)

Dari segi Bahasa Rukhshah artinya memudahkan. Dari segi istilah Rukhsah suatu hukum yang berlawanan dengan dalil asli karena terdapat keuzuran. (Ahmad Marzuk, 2011).

Rukhshah dari Bahasa Arab bermakna kelembutan, kelapangan, dan kemudahan. Dalam Bahasa ulama rukhshah bermakna keringanan.

Rukhshah adalah kemudahan hukum syara yang diberikan kepada umat Islam dalam menunaikan ibadah disebabkan adanya darurat.

Rukhshah dalam bahasa Arab bermakna kelembutan, kelapangan, dan kemudahan. Sementara itu, dalam bahasa para ulama, rukhshah atau keringanan

  • Dalil tentang Rukhsah

Pasien yang sedang dirawat ada keringanan  (rukhshah) dalam tatacara melakukan ibadah.

Dalil tentang Rukhshah:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ (١٨٥)         

Allah menghendaki kamu kemudahan dan dia tidak menghendaki kamu kesukaran. (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ (٧٨)

 “Dan Dia tidak menjadikan kamu menanggung sesuatu keberatan dan kesulitan dalam perkara agama.” (QS. Al-Haj [22]: 78)

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا. (۲٨٦)

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya agama.” (QS. Al-Baqarah [2]: 286)

Hadits Riwayat Ahmad

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ

Dari Ibnu Umar رضي الله عنها, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sesungguhnya Allah suka jika rukhshah (keringanan)-Nya dimanfaatkan sebagaimana Allah tidak suka jika kemaksiatan dilaksanakan.”

(Aris Munandar , 2013).Rukhshah (Ahmad Marzuk, 2011).

Hukum asal untuk setiap mukalaf adalah berwudhu menggunakan air bersih sebelum melakukan ibadah sholat. Namun ketika sakit tidak dapat menggunakan air, dapat melakukan tayamum menggunakan debu tanah.

Hukum asal berpuasa bulan Ramadhan adalah wajib bagi setiap mukalaf. Namun ketika sakit diperbolehkan tidak berpuasa.

Ketika sakit jika tidak mampu sholat berdiri diperbolehkan sholat sambal duduk, baring atau dengan isyarat sesuai dengan kemampuan

Boleh meninggalkan sholat berjamaah

Ketika sakit boleh melakukan sholat jamak taqdim maupun takhir

Tidak membatalkan sholat jika menggunakan obat inhaler

Memperbolehkan penggunaan obat dan tidak membatalkan puasa

BAB IV

THAHARAH/BERSUCI

  1. Pengertian bersuci

Thaharah/bersuci adalah apabila seseorang akan melakukan ibadah sholat harus suci dari hadats kecil dan hadats besar (RS PKU Muhammadiyah, 2017). Thaharah menurut istilah adalah suci dari hadas kecil, hadas besar maupun najis.

Pada dasarnya seorang mukalaf wajib mengambil wudhu menggunakan air bersih sebelum sholat. Namun ketika sakit ada keadaan yang tidak membolehkan pasien menggunakan air untuk berwudhu. Ketika pasien tidak boleh terkena air karena ada balutan ada alternatif cara berwudhu dengan tidak menggunakan air pada anggota wudhu. Pasien hanya mengusap pada bagian anggota wudhu yang tidak boleh terkena air atau dengan cara tayamum

Pasien yang dirawat di rumah sakit tetap wajib melakukan sholat selagi sadar. Pasien yang dirawat di rumah sakit memerlukan bantuan perawat dalam bersuci, wudhu’ ataupun tayamum. Pasien yang sedang dirawat ada keringanan  (rukhshah) dalam tatacara melakukan ibadah.

  • Wudhu

Apabila hendak melakukan sholat, seorang muslim diwajibkan untuk bersuci terlebih dahulu dari hadats kecil maupun hadats besar. Hadats besar dapat hilang dengan mandi jinabat, sedangkan hadats kecil akan hilang dengan melakukan wudhu’.

Anggota tubuh yang wajib Wudhu

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (٦)

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni’mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS Al-Maidah [5]: 6)

Wudhu merupakan syarat sahnya sholat

Dari Hadits Riwayat Bukhari (Imam Az-Zabidi, 2017):

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah telah bersabda, “Shalat orang yang berhadas tidak diterima sebelum dia berwudhu”. Seorang laki-laki dari Hadralmaut bertanya, “Hai Abu Hurairah, apa hadas itu?” Abu Hurairah menjawab, “ kentut, bersuara ataupun tidak.”

Membasuh anggota wudhu yang wajib masing-masing satu kali

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi pernah berwudhu dengan membasuh bagian tubuh yang wajib dibasuh masing-masing hanya sekali basuhan.

Mendahulukan sebelah kanan ketika wudhu

Diriwayatkan dari Aisyah bahwa Nabi senantiasanya mendahulukan anggota tubuh yang kanan dalam memakai sepatu, menyisir rambut, bersuci (dari hadas atau dari najis), dan perbuatan baik lainnya.

Mewudhukan orang lain

Diriwayatkandari Al- Mughirah bin Syu’bah bahwa dia pernah menyertai Rasulullah dalam suatu perjalanan. Ketika itu Rasulullah keluar untuk buang hajat. Setelah selesai beristinja, Al-Mughirah menuangkan air ke tangan Rasulullah ketika beliau berwudhu. Beliau membasuh wajahnya dan kedua tangannya, mengusap air pada kepalanya, dan sepasang kaos kaki kulit.

Mengusap seluruh kepala saat wudhu

Diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid bahwa seorang laki-laki memohon kepadanya: “Tunjukkan kepada saya bagaimana Rasulullah berwudhu.”saya menjawab, “ Baiklah.” Dia meminta air, lalu dia membasuh tangannya dua kali, kemudian dia berkumur dan membersihkan lubang hidungnya dengan air masing-masing tiga kali. Setelah itu dia membasuh mukanya tiga kali, kemudian dia membasuh kedua tangannya sampai siku masing-masing tiga kali, lalu dia mengusap kepalanya dengan kedua tangannya yang basah, dimulai dari depan, lalu kedua tangannya digerakkan ke tengkuk, kemudian digerakkan lagi ke depan (perbatasan dahi). Setelah itu dia membasuh kedua kakinya

  • Pasien yang terdapat balutan pada anggota wudhu
Baluta pada mata

                                              

Balutan pada kepala

             

Balutan pada tangan

                                             

Balutan pada kaki

Hadits Riwayat Ibn Majah & Al DarQuthi: Ali bin Abu Talib meriwayatkan, Salah satu sendiku patah. Aku bertanya Nabi mengenai cara berwudhu’. Baginda menyuruhku mengusap air ke atas balutan patah. (Jais Kamus. 2013).

  • Peralatan wudhu ketika sakit
  1. Air bersih untuk wudhu
  2. Kasa

Kasa digunakan untuk membersihkan ujung urin bag setelah mengosongkan air kecing dari urin bag.

  • Botol Spray
  • Botol spray digunakan untuk membersihkan ujung kantung kencing setelah dikosongkan
  • Botol spray berisi air bersih untuk wudhu untuk membantu pasien yang dirawat di tempat tidur pasien yang tidak mampu ke kamar mandi atau pasien yang memerlukan bantuan.
  • Sarung tangan
  • Sarung tangan diperlukan untuk mengosongkan dan membersihkan urin bag (kantong kencing) sebelum wudhu
  • Sarung tangan digunakan untuk membantu wudhu jika pasien berbeda jenis kelamin
  • Tata cara bersuci pasien yang senantiasa berhadats

Berikut tata cara bersuci bagi pasien yang senantiasa berhadats dengan terpasangnya kateter urin (selang kencing) atau adanya colostomy bag (kantung kolostomi)

  1. Pastikan telah masuk waktu shalat
  2. Buka ujung catheter
Buka urin bag
  • Bersihkan ujung
Buang urin dan bersihkan ujung urin bag
  • Jika terpasang colostomy bag, bersihkan tempat keluar najis (stoma bag) / ganti dengan bag yang bersih.
  • Berwudhu’ seperti biasa atau bantu berwudhu menggunakan botol spray
  • Sholat dengan segera.
  • Jika najis keluar sewaktu sholat, boleh diteruskan dan dimaafkan karena kesukaran (masyaqqah).
  • Sah sholat dan tidak perlu diulang apabila sembuh.
    • Hendaklah mengambil wudhu seperti biasa dengan membasuh anggota wudhu yang tidak ada balutan (jabirah).

Anggota tubuh yang wajib terkena air wudhu berdasarkan dalil QS AlMaidah (5) ayat 6 adalah                                  

1. Muka
  1.    
Tangan
Kepala
  1.                                               
Kaki
  • Anggota wudhu yang ada balutan hendaklah (wajib) diusap dengan air di atas balutannya. Jika mudharat, gugur kewajibannya. Tidak disyaratkan disucikan dahulu sebelum dibalut atau balutan melebihi keperluannya.
    • Wudhu ikut tata tertib urutan mulai dari niat wudhu, membasuh muka, membasuh tangan, membasuh kepala dan terakhir membasuh kaki. (4 anggota wudhu yang wajib ketika sakit). Wajibnya memasuh satu kali setiap anggota wudhu. Pada bagian yang terdapat balutan misalnya terdapat infus pada tangan kanan, maka tangan kanan yang tidak ada balutan disemprotkan dengan air bersih menggunakan spray,
  • setelah itu dilanjutkan dengan atas balutan infus dengan cara menadahkan air ditangan, lalu air dipercikkan pada tempat lain atau diatas handuk, setelah itu tangan tersebut mengusap bagian yang ada balutan infus agar tidak basah terkena air.
  • Sah sholat dan tidak perlu diulangi apabila sembuh. (Ulama’ Maliki & Hanafi)      
    • Jika pasien tidak mampu untuk wudhu sendiri dapat dibantu oleh perawat. Perawat laki-laki membantu pasien laki-laki, perawat perempuan membantu wudhu pasien perempuan.
    • Jika perawat perempuan membantu wudu pasien lelaki perlu memakai sarung tangan agar tidak membatalkan wudhu.
  • Jika tidak boleh terkena air
    • Hendaklah bertayammum
    • Sholat adalah sah dan tidak perlu diulang
    • Tidak boleh menggunakan air dan debu
      • Hendaklah sholat menghormati waktu (dalam keadaan berhadas), Wajiblah di qada’/ulang selepas sembuh
  • Istihadah

Istihādah (الاستحاضة) menurut bahasa artinya mengalir. Menurut syara berarti darah yang keluar bukan pada hari-hari haid dan nifas disebabkan oleh penyakit. Apabila seorang wanita telah memastikan bahwa dia sedang mengalami pendarahan istihadah dan bukan haid, maka hukum-hukum yang diwajibkan ke atasnya adalah sama seperti wanita yang suci.

Wanita yang beristihadah wajib berwudhu’ setiap kali akan sholat. Ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Fatimah binti Abi Hubaisy radhiallahu ‘anha di dalam Shahih al-Bukhari : “Kemudian hendaklah kamu berwudhu’ pada setiap solat.” Makna Hadis ini bahwa dia tidak berwudhu’ untuk solat yang fardhu kecuali setelah masuk waktu sholat.

Apabila wanita yang beristihadah akan berwudhu’, hendaklah dia membersihkan darah dan menggunakan pembalut wanita. Ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Himnah radhiallahu ‘anha:

فَقَالَ أَنْعَتُ لَكِ الْكُرْسُفَ فَإِنَّهُ يُذْهِبُ الدَّمَ قَالَتْ هُوَ أَكْثَرُ مِنْ ذَلِكَ قَالَ فَاتَّخِذِي ثَوْبًا

“Aku akan terangkan untuk kamu (cara menggunakan) al-Kursuf (kapas yang diletakkan di faraj), sesungguhnya ia dapat menghilangkan darah.” Himnah berkata: “Ia (darah saya) lebih banyak dari demikian itu”. Rasulullah bersabda: “Maka hendaklah kamu mengikatnya….” (HR. Abu Daud No. 248)

Dan apa-apa pendarahan yang keluar selepas itu tidaklah memudaratkan (tidak membatalkan wudhu’) berdasarkan hadis berikut riwayat Ahmad dan Ibn Majah.

Berdasarkan Hadits Riwayat Bukhari:

Diriwayatkan dari Aisyah, dia berkata: Fathimah binti Abi Hubaisy datang kepada Rasulullah, lalu ia bertanya,” saya mengalami istihadhah (perdarahan dari dalam uterus di luar haid) sehingga saya tidak pernah suci, apakah saya tidak perlu shalat?”Rasulullah menjawab, “ Tidak begitu. Darah tersebut berasal dari pembuluh darah, bukan darah haid. Jika kamu mengalami haid berhentilah shalat, dan apabila haidmu selesai bersihkanlah darahmu (mandilah), lalu shalatlah, kemudian berwudhilah setiap kali akan shalat sampai tiba lagi masa haid berikutnya. (Imam Az-Zabidi , 2017)

  • Wudhu Wanita yang mengalami istihadah
  • Pastikan masuk waktu sholat
  • Bersihkan tempat keluar darah/air
  • ganti pembalut sebelum berwudhu’
  • Mengambil  wudhu’ dengan segera
  • Darah/air yang keluar sewaktu wudhu’ dan sholat dimaafkan
  • Wudhu’ wanita istihadhah/penyakit lain hanya sah untuk satu sholat fardhu saja dan beberapa sholat sunat.
  • Tayamum
  • Tayammun ialah mengusap ke muka dan dua tangan sampai ke siku, menggunakan debu suci dengan beberapa syarat.
  • Tayammum adalah sebagai ganti dari wudhu’ dan mandi janabah.
  • Satu tayamum untuk satu sholat fardu
  1. Debu tayamum

Dari Hadits Shahih Bukhari:

Diriwayatkan dari Abu Juhaim bin AlHarits Al-Anshari, dia berkata: Rasulullah datang dari arah Bi’rul Jamal, seseorang menemui beliau seraya mengucapkan salam, tetapi beliau tidak menjawab salamnyasehingga beliau menghadap dinding lalu mengusap dinding tersebut dengan kedua telapak tangannya, mengusap wajah dengan debunya serta kedua tangannya. Setelah itu baru beliau menjawab salamnya.” (Imam Az-Zabidi, 2017).

    1. Ambil debu tanah yang suci dan tepuk  ke atas debu dengan niat


نويت التّيمّم لإستباحة الصّلاة فرضالله تعالى                     

“nawaiitut tayamum listibahati fardhu sholat” aku niat  bertayammum untuk melakukan fardhu sholat karena Allah” (berniat ketika menepuk debu hingga tangan sampai ke muka)

  • Usap ke bagian muka yang tidak ada balutan.
  • Tepuk kedua tapak tangan sekali lagi ke atas debu ditempat lain. Kemudian usap kedua belah tangan yang tidak berbalut.

BAB V

PANDUAN IBADAH SHOLAT ORANG SAKIT

Sholat adalah salah satu ibadah yang diwajibkan oleh Allah SWT pada umat Islam diawali dengan takbir (Allahu akbar) dan diakhiri dengan salam (Assalamu’alaikum Warohmatullah). (RS PKU Muhammadiyah, 2017).


فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

Selanjutnya, apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), maka ingatlah kepada Allah dalam keadaan berdiri, pada waktu duduk dan ketika berbaring. Kemudian, apabila kamu telah merasa aman, maka tegakkanlah shalat itu (sebagaimana biasanya). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. – (Q.S An-Nisa: 103)

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) melalui sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. – (Q.S Al-Baqarah: 45)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendekati shalat ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan. Dan jangan pula (kamu menghampiri masjid ketika kamu) dalam keadaan junub kecuali sekedar melewati jalan saja, sebelum kamu mandi (mandi junub). Adapun jika kamu sakit atau sedang dalam perjalanan atau sehabis buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, sedangkan kamu tidak mendapatkan air, maka bertayammumlah kamu dengan debu yang suci, usaplah wajah dan tanganmu dengan (debu) itu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. – (Q.S An-Nisa: 43)

Sholat merupakan rukun Islam yang kedua. Sholat merupakan kewajiban setiap muslim yang telah  baligh. Sholat wajib dilaksanakan dalam keadaan apapun kecuali orang gila dan orang yang hilang akal tidak wajib sholat. Pada dasarnya sholat orang sakit sama dengan orang sehat dalam hal kewajiban melaksanakan sholat, akan tetapi pada orang sakit ada beberapa rukhshah (keringanan/kemudahan). Allah memberikan rukhshah dalam melakukan sholat sesuai dengan kemampuan masing-masing. Tata cara sholat  bagi orang yang sehat atau sakit tapi masih bisa melakukan seperti orang sehat, jika ia mampu melakukan sholat dengan berdiri, maka hendaklah sholat dengan berdiri, lakukan Gerakan dan bacaan sholat dengan sempurna.

(Harmy Mohd Yusuf, et all,2012, Ahmad Marzuk, 2011 dan https://muslim.or.id/37763-tata-cara-shalat-orang-yang-sakit.html)

  1. Rukhsah ibadah sholat orang sakit

Setiap Muslim wajib melaksanakan sholat apapun keadaannya selagi tidak ada udzur untuk meninggalkan sholat, selama ia baligh, berakal, tidak haid dan tidak nifas.

Rukhshah dalam ibadah sholat orang sakit:

  1. Diperbolehkan Menjamak sholat

Menjamak shalat dibolehkan secara umum ketika ada masyaqqah (kesulitan).

Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhu beliau mengatakan:

جمع رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ بين الظهرِ والعصرِ ، والمغربِ والعشاءِ بالمدينةِ من غيرِ خوفٍ ولا مطرٍ

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjamak shalat Zhuhur dan shalat Ashar, dan menjamak shalat Maghrib dan Isya, di Madinah padahal tidak sedang dalam ketakutan dan tidak hujan” (HR. Muslim no. 705).

Para ulama mengatakan alasan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menjamak karena ada masyaqqah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:

والقصر سببه السفر خاصة ، لا يجوز في غير السفر. وأما الجمع فسببه الحاجة والعذر

Dibolehkannya men-qashar shalat hanya ketika safar secara khusus, tidak boleh dilakukan pada selain safar. Adapun menjamak shalat, dibolehkan ketika ada kebutuhan dan udzur” (Majmu’ Al Fatawa, 22/293).

Maka, orang yang sakit jika sakitnya membuat ia kesulitan untuk shalat pada waktunya masing-masing, dibolehkan baginya untuk menjamak shalat.sekaligus.

Jamak Ta’khir

Dari Hadits Shahih Bukhari:

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah mendirikan shalat di Madinah sebanyak delapan rakaat untuk shalat dzuhur dan ashar dan tujuh rakaat untuk shalat magrib dan isya. (Imam Az-Zabidi, 2017)

Jamak Suuri

Sabda Rasulullah SAW kepada Hammah binti Jahsyin ketika dia meminta fatwa mengenai mustahadhah (wanita yang istihadah); Kalau kamu kuat untuk menta’khirkan Zohor dan mempercepat ashar, maka kamu mandi kemudian sholat zohor dan Ashar sekaligus. Kemudian kamu menta’khirkan magrib dan mempercepat Isyak, kemudian kamu mandi dan menjamakkan antara dua sholat, maka kerjakanlah (HR Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi) dalam Ahmad Marzuk (2011).

  • Dibolehkan sholat sambil duduk jika tidak mampu berdiri
  • Dibolehkan sholat sambil berbaring jika tidak mampu duduk

Jika orang yang sakit masih sanggup berdiri tanpa kesulitan, maka waijb baginya untuk berdiri. Karena berdiri adalah rukun sholat. Sholat menjadi tidak sah jika ditinggalkan. Dalil bahwa berdiri adalah rukun sholat adalah hadits yang dikenal sebagai hadits al musi’ shalatuhu, yaitu tentang seorang shahabat yang belum paham cara sholat, hingga setelah ia sholat Nabi bersabda kepadanya:

ارجِعْ فَصَلِّ فإنك لم تُصلِّ

Ulangi lagi, karena engkau belum sholat

Menunjukkan shalat yang ia lakukan tidak sah sehingga tidak teranggap sudah menunaikan shalat. Kemudian Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengajarkan shalat yang benar kepadanya dengan bersabda:

إذا قُمتَ إلى الصَّلاةِ فأسْبِغ الوُضُوءَ، ثم اسْتقبل القِبْلةَ فكبِّر…

Jika engkau berdiri untuk shalat, ambilah wudhu lalu menghadap kiblat dan bertakbirlah…” (HR. Bukhari 757, Muslim 397).

Namun jika orang yang sakit kesulitan untuk berdiri dibolehkan baginya untuk shalat sambil duduk, dan jika kesulitan untuk duduk maka sambil berbaring. Dari Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

Dari Hadits Shahih Bukhari:

Diriwayatkan dari Imran bin Hushain, dia berkata, “Aku mempunyai penyakit wasir, lalu aku bertanya kepada Rasulullah tentang cara shalatku.” Beliau bersabda, “Shalatlah sambal berdiri, jika tidak mampu shalatlah sambil duduk, dan jika tidak sanggup maka shalatlah sambal tidur menyamping.” (Imam Az-Zabidi, 2017)

Dalam riwayat lain disebutkan tambahan:

فإن لم تستطع فمستلقياً

Jika tidak mampu maka berbaring telentang

Tambahan riwayat ini dinisbatkan para ulama kepada An-Nasa`i namun tidak terdapat dalam Sunan An-Nasa`i. Namun para ulama mengamalkan tambahan ini, yaitu ketika orang sakit tidak mampu berbaring menyamping maka boleh berbaring terlentang.

4).        Dibolehkan sholat semampunya jika kemampuan terbatas

Jika orang yang sakit sangat terbatas kemampuannya, seperti orang sakit yang hanya bisa berbaring tanpa bisa menggerakkan anggota tubuhnya, namun masih berisyarat dengan kepala, maka ia sholat dengan sekedar gerakan kepala.

Dari Jabir radhiallahu’anhu beliau berkata:

عاد صلى اللهُ عليهِ وسلَّمَ مريضًا فرآه يصلي على وسادةٍ ، فأخذها فرمى بها ، فأخذ عودًا ليصلي عليه ، فأخذه فرمى به ، وقال : صلِّ على الأرضِ إن استطعت ، وإلا فأوم إيماءً ، واجعل سجودَك أخفضَ من ركوعِك

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam suatu kala menjenguk orang yang sedang sakit. Ternyata Rasulullah melihat ia sedang shalat di atas bantal. Kemudian Nabi mengambil bantal tersebut dan menjauhkannya. Ternyata orang tersebut lalu mengambil kayu dan shalat di atas kayu tersebut. Kemudian Nabi mengambil kayu tersebut dan menjauhkannya. Lalu Nabi bersabda: shalatlah di atas tanah jika kamu mampu, jika tidak mampu maka shalatlah dengan imaa` (isyarat kepala). Jadikan kepalamu ketika posisi sujud lebih rendah dari rukukmu“ (HR. Al Baihaqi dalam Al Kubra 2/306, dishahihkan Al Albani dalam Shifatu Shalatin Nabi, 78).

Makna al-imaa` dalam Lisanul Arab disebutkan:

الإيماءُ: الإشارة بالأَعْضاء كالرأْس واليد والعين والحاجب

Al-Imaa` artinya berisyarat dengan anggota tubuh seperti kepala, tangan, mata, dan alis.”

Syaikh Muhammad bin Shalih Al- ‘Utsaimin mengatakan:

فإن كان لا يستطيع الإيماء برأسه في الركوع والسجود أشار في السجود بعينه، فيغمض قليلاً للركوع، ويغمض تغميضاً للسجود

“Jika orang yang sakit tidak sanggup berisyarat dengan kepala untuk rukuk dan sujud maka ia berisyarat dengan matanya. Ia mengedipkan matanya sedikit ketika rukuk dan mengedipkan lebih banyak ketika sujud.” [2]

5).        Dibolehkan tidak menghadap kiblat jika tidak mampu dan tidak ada yang membantu

Menghadap kiblat adalah syarat shalat. Orang yang sakit hendaknya berusaha tetap menghadap kiblat sebisa mungkin. Atau ia meminta bantuan orang yang ada disekitarnya untuk menghadapkan ia ke kiblat. Jika semua ini tidak memungkinkan, maka ada kelonggaran baginya untuk tidak menghadap kiblat. Syaikh Shalih Al-Fauzan menyatakan:

والمريض إذا كان على السرير فإنه يجب أن يتجه إلى القبلة إما بنفسه إذا كان يستطيع أو بأن يوجهه أحد إلى القبلة، فإذا لم يستطع استقبال القبلة وليس عنده من يعينه على التوجه إلى القبلة، يخشى من خروج وقت الصلاة فإنه يصلي على حسب حاله

“Orang yang sakit jika ia berada di atas tempat tidur, maka ia tetap wajib menghadap kiblat. Baik menghadap sendiri jika ia mampu atau pun dihadapkan oleh orang lain. Jika ia tidak mampu menghadap kiblat, dan tidak ada orang yang membantunya untuk menghadap kiblat, dan ia khawatir waktu shalat akan habis, maka hendaknya ia shalat sebagaimana sesuai keadaannya”[3]

  • Tata Cara Sholat Bagi Orang Sakit

Orang yang sakit tentunya memiliki keadaan yang beragam dan bervariasi, sehingga tidak memungkinkan kami merinci tata cara shalat untuk semua keadaan yang mungkin terjadi pada orang sakit. Namun prinsip dasar dalam memahami tata cara orang sakit adalah hendaknya orang sakit berusaha sebisa mungkin menepati tata cara shalat dalam keadaan sempurna, jika tidak mungkin maka mendekati sempurna. Allah Ta’ala berfirman:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Maka bertakwalah kamu kepada Allah semaksimal kemampuanmu” (QS. At Taghabun: 16).

Nabi Shallallahu’alahi Wasallam bersabda:

سدِّدوا وقارِبوا

Berbuat luruslah, (atau jika tidak mampu maka) mendekati lurus” (HR. Bukhari no. 6467).

Kaidah fikih yang disepakati ulama:

ما لا يدرك كله لا يترك كله

“Sesuatu yang tidak bisa digapai semuanya, maka tidak ditinggalkan semuanya”

  1. Tata cara sholat orang yang tidak mampu berdiri

Orang yang tidak mampu berdiri, maka sholatnya sambil duduk. Dengan ketentuan sebagai berikut:

  • Yang paling utama adalah dengan cara duduk bersila. Namun jika tidak memungkinkan, maka dengan cara duduk apapun yang mudah untuk dilakukan.
  • Duduk menghadap ke kiblat. Jika tidak memungkinkan untuk menghadap kiblat maka tidak mengapa.
  • Cara bertakbir dan bersedekap sama sebagaimana ketika shalat dalam keadaan berdiri. Yaitu tangan di angkat hingga sejajar dengan telinga
  • Setelah itu tangan kanan diletakkan di atas tangan kiri.
  • Cara rukuknya dengan membungkukkan badan sedikit, ini merupakan bentuk imaa` sebagaimana dalam hadits Jabir. Kedua telapak tangan di lutut.
  • Cara sujudnya sama sebagaimana sujud biasa jika memungkinkan. Jika tidak memungkinkan maka, dengan membungkukkan badannya lebih banyak dari ketika rukuk.
  • Cara tasyahud dengan meletakkan tangan di lutut dan melakukan tasyahud seperti biasa.
  • Setelah itu memberikan salam ke kanan dan ke kiri.

2)         Tata cara shalat orang yang tidak mampu duduk

Orang yang tidak mampu berdiri dan tidak mampu duduk, maka shalatnya sambil berbaring. Shalat sambil berbaring ada dua macam:

  1.  ‘ala janbin (berbaring menyamping)

Ini yang lebih utama jika memungkinkan. Tata caranya:

  • Berbaring menyamping ke kanan dan ke arah kiblat jika memungkinkan. Jika tidak bisa menyamping ke kanan maka menyamping ke kiri namun tetap ke arah kiblat. Jika tidak memungkinkan untuk menghadap kiblat maka tidak mengapa.
  • Cara bertakbir dan bersedekap sama sebagaimana ketika shalat dalam keadaan berdiri. Yaitu tangan di angkat hingga sejajar dengan telinga dan setelah itu tangan kanan diletakkan di atas tangan kiri.
  • Cara rukuknya dengan menundukkan kepala sedikit, ini merupakan bentuk imaa` sebagaimana dalam hadits Jabir. Kedua tangan diluruskan ke arah lutut.
  • Cara sujudnya dengan menundukkan kepala lebih banyak dari ketika rukuk. Kedua tangan diluruskan ke arah lutut.
  • Cara tasyahud dengan meluruskan tangan ke arah lutut namun jari telunjuk tetap berisyarat ke arah kiblat.
  • Setelah itu mengucap salam
  • mustalqiyan (telentang)

Jika tidak mampu berbaring ‘ala janbin, maka mustalqiyan. Tata caranya:

  • Berbaring telentang dengan kaki menghadap kiblat. Yang utama, kepala diangkat sedikit dengan ganjalan seperti bantal atau semisalnya sehingga wajah menghadap kiblat. Jika tidak memungkinkan untuk menghadap kiblat maka tidak mengapa.
  • Cara bertakbir dan bersedekap sama sebagaimana ketika shalat dalam keadaan berdiri. Yaitu tangan diangkat hingga sejajar dengan telinga dan setelah itu tangan kanan diletakkan di atas tangan kiri.
  • Cara rukuknya dengan menundukkan kepala sedikit, ini merupakan bentuk imaa` sebagaimana dalam hadits Jabir. Kedua tangan diluruskan ke arah lutut.
  • Cara sujudnya dengan menundukkan kepala lebih banyak dari ketika rukuk. Kedua tangan diluruskan ke arah lutut.
  • Cara tasyahud dengan meluruskan tangan ke arah lutut namun jari telunjuk tetap berisyarat ke arah kiblat.
  • Setelah itu mengucapkan salam

3)         Tata cara shalat orang yang tidak mampu menggerakkan anggota tubuhnya (lumpuh total)

Jika tidak mampu menggerakan anggota tubuhnya namun bisa menggerakkan mata, maka shalatnya dengan gerakan mata. Karena ini masih termasuk makna al-imaa`. Ia kedipkan matanya sedikit ketika takbir dan rukuk, dan ia kedipkan banyak untuk sujud. Disertai dengan gerakan lisan ketika membaca bacaan-bacaan shalat. Jika lisan tidak mampu digerakkan, maka bacaan-bacaan shalat pun dibaca dalam hati.

Jika tidak mampu menggerakan anggota tubuhnya sama sekali namun masih sadar, maka shalatnya dengan hatinya. Yaitu ia membayangkan dalam hatinya gerakan-gerakan shalat yang ia kerjakan disertai dengan gerakan lisan ketika membaca bacaan-bacaan shalat. Jika lisan tidak mampu digerakkan, maka bacaan-bacaan shalat pun dibaca dalam hati.

DAFTAR PUSTAKA

Arham Ahmad Yasin. AlQur’an terjemahan: Mushaf Ash-Shahib. Jakarta: Hilal Media

Achir Yani. (2015). Paradigma Keperawatan Dalam Perspektif Islam. Disampaikan pada seminar dan Workshop keperawatan Islami STIKes Jayakarta.

Aris Munandar  (2013). Kemudahan. E book www.ibnumajjah.com

Ahmad Marzuk Shaary. (2011). Panduan Pengurusan Ibadah Pesakit. Disampaiakan pada seminar Kejururawatan Muslim Kolej Universiti Islam Antarabangsa Selangor.

Harmy Mohd Yusuf, et all. (2012). Fikah Perubatan. Kuala Lumpur: PTS Millenia Sdn. Bhd.

Kozier, at all. (2008). Fundamental of Nursing. New Jersey: Pearson.

Imam Az-Zabidi. (2017). Ringkasan Shahih Bukhari. Bandung: Penerbit Jabal.

Jais Kamus. (2013). Ibadah Pesakit. Disampaikan pada Training of Trainer Fasilitator Mesra Ibadah Jabatan Agama Islam Selangor, Malaysia.

RS PKU Muhammadiyah. (2017). Tuntunan Ruhani Orang Sakit. Edisi Revisi keenam. Yogyakarta: RS PKU Muhammadiyah

Sudalhar. (2011). Keperawatan Islami. Jawa Timur: CV. Duta Ilmu Indonesia.

Terjemahan AlQur’an. https://tafsirweb.com

Tata cara Sholat Orang sakit. https://muslim.or.id/37763-tata-cara-shalat-orang-yang-sakit.html

BIOGRAFI PENULIS

Murtiningsih, lahir di Jakarta pada tanggal 4 April 1970, menyelesaikan Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada tahun 1995, Magister Keperawatan Maternitas Universitas Indonesia tahun 2004, Spesialis Keperawatan Maternitas Universitas Indonesia tahun 2005. Pada tahun 1997-2006 sebagai dosen tetap di Politeknik Kesehatan Kemenkes Jakarta I. Sebelumnya pernah menjadi dosen di Akademi Keperawatan Yayasan Usaha Mulia Pamulang dan Akademi Keperawatan Yayasan RS MH Thamrin. Pada tahun 2006-2013 menjadi dosen keperawatan di Kolej Universiti Islam Antarabangsa Selangor (KUIS) Malaysia. Pada tahun 2008 aktif untuk mengembangkan kurikulum keperawatan Islami di KUIS serta menjadi pembicara pada Seminar Nasional Jururawat Mesra Ibadah di Malaysia. Penulis telah mendapatkan sertifikat training for trainer fasilitator perawat mesra ibadah di Malaysia pada tahun 2013. Sejak tahun 2014 sampai saat ini aktif sebagai dosen tetap di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Jayakarta PKP DKI Jakarta dan menjadi koordinator mata kuliah keperawatan Maternitas dan keperawatan Islami.

PANDUAN IBADAH ORANG SAKIT

Setiap Muslim yang telah baligh dan berakal wajib melaksanakan sholat baik pada saat sehat maupun keadaan sakit. Pada kenyataannya pasien yang dirawat di rumah sakit ada yang meninggalkan sholat lima waktu karena beberapa alasan, diantaranya karena merasa ada najis, merasa tidak perlu sholat ketika sakit, tidak tahu cara melakukan  wudhu dan sholat ketika sakit. Orang yang sakit ada rukhshah (keringanan) dalam melakukan ibadah ketika sakit.

Peran perawat atau individu yang membantu orang yang sakit , maka ketika beribadah. Barang siapa yang membantu orang lain melakukan ibadah, maka akan mendapatkan pahala tanpa mengurangi pahala orang yang dibantu. Rukhshah dalam melakukan ibadah ketika sakit perlu diketahui agar individu yang sakit tetap dapat melakukan sholat.

Buku ini menjelaskan tentang keperawatan spiritual, konsep sehat dan sakit, Rukhshah, thaharah/bersuci serta sholat ketika sakit. Panduan ini dibuat untuk memudahkan orang yang sakit, keluarga atau petugas kesehatan melaksanakan ibadah semasa sakit dirawat di rumah sakit ataupun ketika sakit di rumah. Panduan ibadah orang sakit ini disertai dengan langkah-langkah serta gambar agar lebih mudah untuk dipraktikkan. Semoga buku panduan ini bermanfaat bagi lebih banyak orang dalam melaksanakan ibadah ketika sakit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create your website at WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: